chiil

Ketika Saya Berpura-pura..

In Family ~ Kazoku, Love ~ Affeto, Ngerumpi on April 21, 2010 at 8:35 am

Bukan tanpa alasan ketika saya memilih untuk tidak terlalu terbuka dengan keluarga saya, terutama ibu. Beliau memang orang yang enak diajak berdiskusi masalah apapun, dan bisa menempatkan diri pada posisi saya. Ibu selalu siap membantu siapapun, terutama anak-anaknya.

Ketika saya sibuk mempersiapkan sesuatu, ibu pasti lebih sibuk membantu saya. Ketika saya harus bangun pagi untuk mengejar pesawat pertama hari itu, ibu bangun lebih pagi untuk mempersiapkan sarapan saya. Ketika saya begadang demi menyelesaikan tugas, diam-diam ibu menemani saya dengan berdoa, dan baru tertidur setelah saya tidur. Ketika saya berjuang keras untuk menyelesaikan kuliah, ibu berjuang lebih keras dengan caranya sendiri, menjalani puasa berhari-hari demi kelulusan saya.

Maka ketika saya mengeluh karena lelah, sebenarnya ibu lebih lelah, tapi tak mengeluh. Ketika saya terluka, ibu merasakan luka yang lebih sakit. See? Itulah mengapa saya kurang terbuka tentang masalah saya. Bukan karena saya tidak ingin berbagi, bukan karena saya sangat kuat sehingga tidak butuh topangan. Tapi karena saya tidak ingin menambah beban pikiran beliau. Karena saya tau, perasaan yang saya rasakan pasti dirasakan juga oleh ibu dengan kadar berlipat-lipat.

Dan ketika saya sedih, terkadang saya berpura-pura tegar di depan ibu, agar hati ibu tidak tersayat melihat saya menangis. Ben ora kepikiran. Karena seorang ibu menanggung pula beban anak dan suaminya.

Kadang saya ingin melepas topeng kepura-puraan saya, dan menghambur ke pelukan ibu dengan air mata berurai. Ibu, saya lelah.

Tapi saya tak sampai hati. Cukuplah saya melegakan diri saya dengan menangis diam-diam di malam hari, saat semua orang sudah tertidur. Beruntungnya saya, karena mata saya bisa diajak bekerja sama. Tidak membengkak setelah menangis berjam-jam.

Satu keinginan saya, melipatgandakan kebahagian ibu, untuk membalas semua hal yang telah ibu lakukan untuk saya.

Untuk seorang ibu yang selalu bangun tengah malam, merapikan selimut dan mencium pipi anak-anaknya yang sedang tidur.

Advertisements
  1. wuaaaaaaaaaaaaa chiiiiilllll terharu nich >.<
    setuju banget sama tulisan kamu
    aku juga paling sedih klo liat mama sedih, dan aku juga sll sok kuat klo di depan mama (g mau mama kepikiran), padahal nangisnya di kamar sambil nulis buku harian (hahaha masih jaman ya?!) ato sambil berdoa, trus pura-pura tidur sampe ketiduran hehehe
    satu chiil m kamu
    hidup IBU kita !!! ^^V

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: