chiil

Cukup Kita. Deal?

In Memory ~ Hafiza on November 12, 2010 at 6:02 am

Ice cream.

.

.

.

Dua kata yang mampu membuatku bersabar menunggumu.

Lama sekali kamu datang ke tempat ini. Milk tea yang kupesan pun sudah nyaris tandas.

Kalau habis, aku tak punya alasan untuk tetap duduk disini.

.

.

.

“Kamu dimana?”

Keningku berkerut. Handphone masih menempel di telingaku. Dan suaramu masih terasa asing, walau sudah beberapa kali kudengar.

Nada bicara yang khas, ayunan kalimat yang unik, dan cara tertawa yang terdengar..

Usil.

Kamu siapa?

.

.

.

.

Mungkin saat ini kamu sedang tertawa. Tepatnya menertawakan aku yang sama sekali tak tau siapa kamu.

“Kamu siapa? Beritahu aku.”

“Kita pernah bertemu. Bahkan kita bersebelahan di satu waktu. Seharusnya kamu ingat aku.”

“Aku tak tau.”

“Ya sudah. Yang pasti aku tau kamu.”

Kamu curang.

.

.

.

.

“Hei.. Kamu dimana? Aku sudah sampai di Plangi.”

Ah, aku tergeragap mendengar suaramu. Sepertinya aku sedikit melamun.

“A.. Aku di foodcourt.

“Oke, aku kesana.”

“Err.. Jangan lupa janjimu, traktir aku ice cream.

“Tenang..”

.

.

.

.

Ah..

Kamu pikir ice cream itu alasanku menunggumu sekian jam?

Bukan, bukan itu.

Alasanku sebenarnya adalah kamu.

Lucu ya, sepertinya berondongan pertanyaan interogasi setiap malam tak cukup untuk membuatmu mengaku. Padahal aku hanya meminta sedikit darimu. Satu kata saja untuk menyentil sekeping ingatan di otakku tentang kamu.

Namamu.

.

.

.

Dan ketika nasib membawaku ke Jakarta, ke kotamu sekarang, kamu tak punya pilihan lain selain menepati janjimu. Menemuiku dan memperlihatkan sosok aslimu.

Sosok yang..

Yang kini sudah ada di depanku, hanya berjarak 0.5 meter dari tempatku duduk. Mengenakan topi dan kaos dan.. Ah! Tawa usil itu!

Ya, kamu tertawa melihat ekspresi kagetku.

Kamu.. Kamu ada di depanku.

Kamu yang kukenal dulu, memang hanya bayangan. Proyeksi semu. Tapi kamu yang sekarang..

Nyata.

.

.

.

.

.

.

Kita masih tertawa. Tepatnya menertawakan kebodohanku melewatkan kemungkinan logis tentangmu. Mata kita saling menatap, dan..

Ah sudahlah, cukup kita yang tau. Terima kasih sudah menepati janjimu.

Next time, my treat.

Deal?

.

.

.

.

*sebuah tulisan yang lupa di-crosspost dari sini

Advertisements
  1. diMat.. kamu sama si penonton kerusuhan? Gitu? Pacaran?
    Eh? #nggosip =))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: