chiil

MICROSOFT BLOGGERSHIP 2011 : Teknologi yang Menjawab Keterbatasan

In Family ~ Kazoku, Ngerumpi on December 15, 2010 at 3:50 pm

“Twitter? Kamu punya akun Twitter? Ah paling-paling buat nyampah, curcol ga jelas pas lagi galau, apa misuh-misuh sakpenake dewe. Pol-polan buat nggosipin orang. Ya to?”

Hah?

“Itu yang bikin aku males punya akun Twitter. Lha piye to, pas aku buka akunnya temenku, isinya kok dia berantem sama pacarnya. Trus mewek-mewek ga jelas. Haduuhh.. Malesiiinn!!”


Woooo.. Dia lagi mangkel ternyata. Dan teman saya pun terus merepet tanpa bisa saya sela.

.

Pernah mengalami hal serupa? Ketika social media, terutama Twitter, dipandang sebelah mata dengan berbagai alasan. Sampai-sampai ada istilah No Action Tweet Only, alias ngoceh tanpa tindakan tanya. Padahal, yang namanya teknologi itu tidak hadir tanpa manfaat.

.

Teknologi, bagi saya, bisa digunakan untuk menggerakkan banyak orang. Ga percaya?

.

Awalnya dari keterbatasan saya, yang karena satu dan lain hal, tidak diperbolehkan mendonorkan darah. Padahal golongan darah saya AB, yang selama ini dianggap langka. Tapi apa iya sih, saya cuma bisa diam ketika mengetahui orang lain membutuhkan darah?

.

Maka, saya sangat bersyukur bisa bergabung dengan Blood For Life, dipercaya menjadi admin BFL Jogja, yang tugasnya mengkoordinasikan dan membantu mencarikan donor apabila ada kebutuhan darah segar. Hal ini tentunya tidak mudah. Apalagi BFL bergerak melalui social media.

Penyebaran informasi -terutama lewat Twitter- memang sangat cepat, namun terkadang orang ragu akan validitas informasi tersebut. Oleh karena itu, saya berkewajiban meng-cross check segala informasi mengenai kebutuhan darah.

.
Apa sih peran social media dalam kasus ini?

.
Sejauh ini, permintaan donor darah paling banyak justru ketika saya sedang di Kalimantan. Saat itu, keluarga pasien penderita Leukimia sedang kalut. Kebutuhan darah sudah sangat mendesak padahal di Rumah Sakit tidak ada stok darah segar. Seorang kerabatnya pun berinisiatif untuk menghubungi saya. Dari jarak sejauh itu, usaha paling optimal yang bisa saya lakukan adalah menyebarkan informasi seluas-luasnya melalui Twitter. Tentunya sambil berkoordinasi dengan keluarga dan ikut memonitor ketersediaan donor. Ketika di Jogja pun, saya menyempatkan diri ke RS untuk menjenguk pasien, bertemu keluarganya, dan memastikan kebutuhan darahnya terpenuhi.

.

Dan hebatnya, dalam waktu singkat banyak pendonor yang berdatangan, menyatakan keinginannya untuk mendonorkan darahnya. Padahal, kami tak saling kenal. Luar biasa bukan, bagaimana sebuah tweet bisa menggerakkan sekian banyak orang, dan setetes darah mereka telah menyelamatkan nyawa seseorang.

.

Lalu contoh lain. Gerakan 1000Buku misalnya. Suatu gerakan yang idenya mirip dengan ide yang pernah didengungkan warga Ngerumpi Jogja dalam suatu kopdar. Tapi saat itu, tembok besar bernama keterbatasan menjulang tinggi. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan. Banyak hal yang menjadi halangan. Dan ide ini pun tertunda.

.

Maka, ketika pertama kali mendengar gerakan itu lewat Twitter, saya langsung berinisiatif mengumpulkan buku dan kaos dari warga Ngerumpi Jogja untuk dikirim ke Jakarta. Tak dinyana, banyak yang menyebarkan tweet saya, sehingga banyak orang yang tergerak untuk menyumbangkan buku dan kaosnya. Gerakan ini meluas. Tidak sekedar merangkul Ngerumpi Jogja, tapi juga orang lain di luar komunitas ini.

sebagian buku & kaos yang terkumpul

.
Demikian pula dengan gerakan Ngerumpi for Merapi, yang sasaran awalnya adalah warga Ngerumpi. Pada akhirnya, lewat publikasi yang tak henti-hentinya melalui Twitter dan blog, banyak pihak di luar komunitas Ngerumpi yang ikut serta membantu sehingga Ngerumpi for Merapi ini bisa menjangkau mereka yang membutuhkan secara lebih luas. Laporan selengkapnya ada disini.

sebagian belanja kebutuhan sehari-hari

belanja sembako

kiriman dari Gresik

sebagian sumbangan boneka untuk Program 1000boneka

Keterbatasan. Suatu hal yang bisa menjadi tembok penghalang. Ketika ingin berbuat sesuatu, seringkali saya dihadapkan pada berbagai macam keterbatasan. Keterbatasan ini pula yang sempat menimbulkan ketakutan pada diri saya. Apa iya sih saya bisa berkontribusi?

.

Dana Ngerumpi for Merapi yang terbatas, misalnya, membuat saya dan teman-teman harus ekstra kreatif. Bagaimana caranya mengumpulkan sebanyak mungkin bantuan dan menjangkau sebanyak mungkin pengungsi? Salah satu caranya adalah program “Berbagi Kehangatan dengan Para Pengungsi” yang berhasil mengumpulkan puluhan selimut dan jaket.

sumbangan selimut; program "Berbagi Kehangatan"

.
Lalu inti tulisan ini apa sih?

.
Well.. Saya yakin sekali bahwa di luar sana, banyak sekali orang yang bergelut dengan keterbatasannya. Dan yang sering terjadi, keterbatasan itu menghalangi langkah mereka untuk maju dan berkontribusi. Padahal, dari apa yang telah saya alami, yang kita perlukan sebenarnya adalah berpikir kreatif, mencari jalan lain untuk sampai ke tujuan kita. Disini teknologi berperan penting.

.

Mengenalkan teknologi dan internet sehat seluas-luasnya adalah sebuah kebutuhan. Bayangkan, ketika petani di suatu desa mengenal internet. Dia bisa meningkatkan keterampilan dalam bertani, menggali informasi mengenai inovasi-inovasi terkini dalam bidang pertanian. Siapa tau dia bisa mengembangkan inovasi tersebut, lalu didukung dengan teknologi dan internet, dia bisa memasarkan produknya ke tingkat yang lebih luas.

.
Maka, yang pertama harus dilakukan adalah menjawab tantangan akan keterbatasan akses internet, informasi serta ilmu. Sasarannya? Siapa saja yang belum mengenal internet! Petani, pedagang, guru, ibu rumah tangga, bahkan anak-anak dan remaja. Dengan pelatihan-pelatihan berbasis teknologi informasi, diharapkan dapat meningkatkan kompetensi dan keterampilan mereka. Modal dasar ini nantinya dikembangkan lagi sesuai kebutuhan dan minat masing-masing. Ibu rumah tangga misalnya, bisa diberdayakan melalui pelatihan kerajinan tangan dari limbah plastik. Nantinya ibu-ibu ini diajari bagaimana caranya menjual produk lewat internet. Guru-guru bisa mendapat pelatihan cara interaktif mengajar di kelas menggunakan teknologi.

.
Disini peran komunitas-komunitas di daerah tersebut sangatlah besar. Mereka bisa berkontribusi dengan memberikan pelatihan secara berkesinambungan sesuai bidangnya masing-masing. Sehingga terciptalah sinergi dimana mereka saling berbagi, saling memotivasi, dengan teknologi sebagai stimulus. Apabila hal ini terus dilaksanakan secara kontinyu, tidak hanya kompetensi diri yang meningkat, tapi mereka juga bisa berkontribusi untuk mengembangkan masyarakat dan lingkungan. Jangan kaget ketika nanti daerah tersebut maju secara pesat.

.

Saat ini, hal itu baru sekedar mimpi. Banyak sekali ide-ide yang mampir di kepala, namun kemampuan saya masih terbatas. Begitu pun dengan network. Bagi saya pribadi, aktif di social media membawa saya kepada hal-hal positif yang mengikis ketakutan saya, dan juga pembelajaran, bahwa sebenarnya saya, kamu, kita semua, bisa berkontribusi untuk masyarakat, sekecil apapun itu. Semoga Microsoft Bloggership ini menjadi jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya, berkontribusi lebih banyak kepada masyarakat luas.

P.S : foto-foto kegiatan Ngerumpi for Merapi bisa dilihat lewat postingan ini

Advertisements
  1. adanya teknologi mempermudah banyak hal… tapi kadang dalam penyampaian informasi emang ada beberapa yang harus di kroscek ulang ke validan nya… tapi selama emang ada niat baik, hal baik insyaallah pasti bisa berjalan baik 🙂

    #KomenAgakMbulet

    • aaaaaaaa.. makasih mbaa udah mampir 🙂
      iya, untuk menghindari hoax memang harus dikroscek.
      dan amiiinn.. semoga dgn niat baik, semua dilancarkan 🙂

  2. Maju terus, mat !
    🙂

  3. like it,
    aku telat… hikss

  4. Ah, betul-betul salut aku sama kau ini, nona manis 🙂

  5. kalo terbatas yaa…
    pake Linux ajah 😀

  6. Mamaaaatttt…. *hugs* saya bangga sama kamuuuu…. Tadinya mau ikutan microsoft bloggership tapi blog baru kuh belom ada setauuuunnn…..
    Saya dukung kamu habis2an maaattt!!!

  7. Ah mamat.. keren sangat seperti biasa.. 😀
    proud of youuu!!!! *ciyum-ciyum*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: