chiil

Compulsive Liar : When Lying Becomes A Habit

In Memory ~ Hafiza, Ngerumpi on January 12, 2011 at 9:50 am

lie

-crossposting dari sini

.

Everyone lies from time to time..

.

Siapapun pernah berbohong. Jaman kuliah, misalnya, ngakunya sakit  sampai bikin surat ijin segala, padahal cuma mau bolos kuliah dan main ke mal. Alasannya kuliahnya membosankan, tapi ga pingin prosentase absensi kurang.

.

Loh kok berbau curcol yaa? :mrgreen:

.

Kebanyakan orang berbohong karena ada alasannya, sesepele apapun itu. Takut dimarahi, takut mendapat hukuman, menutupi kesalahan, dll.

.

.. but for a compulsive liar, telling lies is routine. It becomes a habit – a way of life. – sumber

.

Nah loh, ternyata dalam dunia psikologi dikenal istilah compulsive liar, dimana seseorang mempunyai kebiasaan berbohong (habitual), tanpa alasan, dan dilakukan terus menerus. Lying simply becomes their second nature. Pada dasarnya, mereka berbohong tentang apapun, hal besar maupun kecil, dan tentunya itu mengganggu, apalagi jika kebohongannya itu mengakibatkan kerugian bagi orang lain.

.

Spot The Symptoms

Bagaimana cara mengenali compulsive liar?

Dari beberapa materi yang saya dapat di internet, ada beberapa hal yang harus diketahui tentang compulsive liar.

1.       Habitual lie

Bagi para compulsive liars, berbohong sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Berbohong tentang apapun, kapanpun, kepada siapapun. Bahkan untuk hal sepele pun mereka -tanpa disadari- mengatakan kebohongan. Tanpa disadari? Iya, saking seringnya berbohong, hal itu menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.

“I don’t lie purposely, but I can’t help it. Lies just slip out of my mouth without me realizing it.” ujar seseorang yang mengaku menderita compulsive lying disorder.

.

2.       Tidak konsisten

Compulsive liar, seperti yang sudah tertulis di atas, berbohong kepada siapapun. Bisa jadi, dia lupa dengan kebohongan yang dia buat sendiri saking seringnya dia berbohong kepada banyak orang. Ketidakkonsistenan inilah yang menjadi bumerang bagi compulsive liar.

Contoh nyata, pernah ada seseorang yang bercerita kalau istrinya sudah meninggal. Ehh, kepada teman saya yang lain, dia bilang istrinya sudah diceraikan. Hmmm.. 😐

.

3.       Covering Up

Ketika ada yang menyadari kebohongannya, dia akan segera menutup-nutupinya dengan kebohongan lain yang tidak kalah dramatis. Pokoknya jangan sampai ketahuan bohong! Walaupun kenyataannya, ketika dia menutupinya dengan cerita baru, kebohongan itu semakin jelas terlihat. Misal nih:

A : Istriku udah kuceraikan. Habis dia matre sihh..

B : Lohh.. Bukannya kamu bilang sama C kalau istrimu sudah meninggal?

A : Ah enggaa.. itu sengaja bilang gitu biar C ga riwil tanya-tanya terus. Kalau aku bilang meninggal kan dia langsung diem.

B : Oh.. kalau udah cerai, kenapa di facebook-mu masih berstatus “married with D”?

A : Soalnya aku lupa password FBku, jadi ga bisa diganti. Teman-temanku taunya aku masih nikah, padahal udah cerai.

B : Kenapa gak dia aja yang ganti statusnya?

A : Dia juga lupa password-nya.

B : …………..

.

Padahal, yang sebenarnya, dia masih terikat status pernikahan dengan istrinya yang bahkan sedang hamil. 😯

.

4.       Bahasa tubuh

Ketika berbohong, tubuh memberikan reaksi berupa rasa cemas, khawatir, tegang yang dapat memacu denyut jantung. Biasanya tubuh menjadi gelisah. Namun, pada compulsive liar, rata-rata menunjukkan bahasa tubuh yang santai dan meyakinkan, seakan-akan yang dia katakan benar adanya. Sehingga, tak banyak yang sadar bahwa dia sedang berbohong.

.

5.       Poor self-esteem

Hal paling sulit yang dapat dilakukan oleh compulsive liar adalah berkata jujur dan menjadi diri sendiri, karena pada dasarnya mereka tidak percaya diri dengan kondisi mereka. Sehingga, dengan berbohong mereka bisa mendapat perhatian dan kekaguman dari orang lain. Siapa sih yang tidak kagum dengan seseorang yang punya helikopter pribadi? :mrgreen:

Hal ini dapat mendongkrak rasa percaya diri mereka. Dan untuk mempertahankan popularitasnya, mereka rela-rela saja berbohong terus menerus.

.

6.       Nyaman

Compulsive liar merasa lebih nyaman ketika berbohong daripada mengatakan kebenaran. Apalagi jika efek kebohongan itu dapat menaikkan popularitas dan kepercayaan diri penderitanya. Padahal kenyamanan ini hanya didapat dari kekaguman semu.

.

7.       Denial

Bagaimana ketika ketahuan? Biasanya seseorang akan mengelak ketika didiagnosis menderita compulsive lying disorder. Karena seperti yang sudah ditulis di awal, hal itu sudah menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan, sehingga penderitanya pun tidak sadar bahwa dia selalu berbohong. Ada juga yang mengelak walaupun dia sadar akan kebiasaannya, karena dia sudah terlanjur nyaman dengan kebohongannya itu.

Heal The Disorder

Lalu bagaimana cara menyembuhkan compulsive lying disorder itu? Well, satu-satunya cara adalah membawanya ke psikolog/psikiater untuk sesi konseling. Dari situ bisa ditemukan penyebab utamanya dan cara terbaik untuk mengatasinya. Atau mungkin ada yang mau mencoba metode hipnosis ini?

.

Deal with Compulsive Liars

Selama ini saya sudah mengenal 3 orang dengan compulsive lying disorder. Dalam waktu setahun sudah banyak cerita bohong yang dia karang, dan saat itu, rasanya semua orang yang mengenal dia sudah tau track record kebohongannya. Misalnya nih, salah 1 teman saya itu pernah bilang dia punya studio musik lengkap, padahal kami yakin dia berbohong. Ketika kami akan ke rumahnya untuk nge-band, dia bilang senar gitar & bassnya putus, keyboardnya rusak, drumnya jebol. 😯

Di lain waktu, dia bilang ibunya meninggal. Padahal sebenarnya ibunya masih hidup. Hal itu dia lakukan untuk mendapat perhatian seperti yang kami berikan pada teman kami yang baru saja kehilangan ibunya.

Selama bertahun-tahun mengenal mereka, sudah banyak sekali kebohongan yang mereka katakan. Jadi selama ini saya dan teman-teman yang lain memilih untuk menjauh dan tidak menggubris perkataan mereka. Jangankan membawa mereka ke psikolog, mau ketemu aja males. :mrgreen:

.

Silakan klik disini untuk melihat bagaimana mereka berurusan dengan compulsive liars.

.

Terus, moral postingan ini apa donk? Yaahh.. buat saya penting sekali mengenal setiap orang, terutama (calon) pasangan kita. Perluas lingkaran pertemanan supaya lebih mengenal sisi lain tentang orang ini. Dan yang paling penting, berhati-hati dengan ucapan orang lain yang belum terjamin kebenarannya, apalagi ketika banyak ucapannya yang tidak terbukti. 😉

E betewe, teman-teman ada yang pernah mengalami hal serupa ga? Share yuuukk..

gambar dari sini

Advertisements
  1. padahal berbohong itu rasane adhem panas lho, ndak nyaman sama sekali. ini malah bisa jadi kebiasaan ya? 😐

    ini semacam sakit secara psikologis kah?

    • yapp betuuulll.. adem panas kan karena kita menyembunyikan sesuatu. tapi dia tujuannya mendapat puja-puji dari orang lain 😆
      jadi yaa.. buat dia, semakin oke bohongnya, semakin kita percaya, dia semakin seneng :mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: