chiil

From Kitchen with Love

In Indonesia Mengajar, Love ~ Affeto on March 29, 2013 at 5:03 am

Dapur rumahku di Maluku sangat sederhana.

Ada tempat kayu bakar untuk memasak air atau menanak nasi, ada juga kompor minyak yang biasanya dipakai untuk memasak sayur atau menggoreng ikan. Karena skill memasak yang pas-pasan, Mama angkat hanya memintaku mengupas bawang, menghaluskan bumbu, mencari cabai dan sayur. Sayurnya? Mulai dari daun singkong, sayur ular, daun pepaya, bunga pepaya, sampai jantung pisang. Semua tinggal petik di kebun! *pasang caping*

Tidak sampai 2 hari, aku sudah ahli menyalakan kompor minyak. Hahaha.. Maklum, biasanya pakai kompor gas. :”>

Mulailah aku berkreasi masak ini itu, dengan takaran bumbu seenaknya. Yang penting enak. Lama-lama aku mengambil alih peran sebagai koki. Masalah muncul ketika mama angkat dan anaknya harus pergi ke kota selama 2 minggu secara mendadak.

HAH? :O

AKU KAN BELUM TAU GIMANA CARA NYIAPIN KAYU BAKAR BUAT MASAK!?

TRUS GIMANA INI KALAU HARUS GORENG IKAN SAMA MASAK NASI DAN AIR?!?!?!

Yasalam.

Pertama mencoba menyalakan kayu bakar, apinya tidak bertahan lama. Berbekal ingatan saat mama angkat menyalakan api, aku pun memutuskan meniup kayu yang baranya masih menyala. Entah mana yang salah: tiupanku yang kurang kuat atau bibirku yang terlalu jaim *ehem*, hembusan udaranya tidak menghasilkan api, melainkan asap tebal yang  membuat mataku pedih bukan main dan tenggorokan sakit. Itu momen pertama dimana aku –literally- bercucuran air mata. *sesenggukan di bahu Rudi Choirudin*

Tapi, rasa lapar memang jadi driven force terbesar untuk menaklukkan tantangan hidup. *tsah*

Singkat cerita, aku sukses memasak menggunakan kompor minyak dan kayu bakar. Yay!

Suatu malam, sebelum les bersama anak-anak, aku hendak menumis kangkung. Terhitung mewah karena kangkung hanya bisa didapat ketika tukang ojek datang ke desa membawa titipan sayur untuk dijual. Harganya pun mahal! Kangkung yang di Jawa dihargai Rp 1500,00 per ikatnya, disini menjadi Rp 5000,00 dengan jumlah yang jauh lebih sedikit. Alhasil, 3 ikat kangkung ketika dimasak hanya cukup untuk sekali makan.

Beberapa anak yang sudah datang pun memilih menunggu di rumah sebelah sambil menonton TV. Maklum, hiburan itu hanya bisa dinikmati setiap malam saat listrik menyala. Sedangkan bagiku, memasak sendiri seperti ini adalah me-time. Aku menikmati saat-saat memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam wajan, menghirup aroma bumbu yang mulai matang di dalam minyak panas, lalu memasukkan kangkung yang sudah dicuci bersih. Hmmmm..

Baru sekian detik kangkung dimasukkan, terdengar suara langkah-langkah kaki berderap cepat dari rumah sebelah, menggeruduk pintu depan yang setengah terbuka, dan tiba-tiba sudah berdiri di pintu dapur. Sambil terdiam, mereka menutup mata sambil menarik nafas dalam-dalam, menyesap aroma masakan, lalu berkata dengan lirih “Hmmmm.. Baunya enaaaaaaaaakkk”.

Ah, rupanya mereka berlari meninggalkan sinetron yang sedang mereka tonton hanya untuk mencari tau apa yang sedang kumasak.

 “Su makan?” tanyaku sambil tersenyum geli.

“Sudah, Ibu. Tapi..” ujar mereka bersamaan sambil menatap tumis kangkung dengan mulut terbuka.

Aku tergelak.

“Ya sudah, katong mulai les saja to..” kataku sambil menuang tumis kangkung di mangkok kecil dan menaruhnya di atas meja. Tak lupa menutupnya dengan tudung saji agar kucing tidak semena-mena mencuri masakanku seperti biasanya.

Entah kenapa, saat les malam itu, banyak anak yang rajin ke kamar mandi. Mereka berkali-kali meminta ijin, bahkan sampai nyaris bertengkar karena ingin lebih dulu ke belakang. Hmm.. Berbekal rasa curiga, aku menengok ke belakang.

Kamar mandi, aman. Dapur, aman. Sambil berjalan kembali ke ruang depan, pandanganku tertumbuk pada meja makan yang letak tudung sajinya bergeser. Wah, mencurigakan! Begitu dibuka, di atas mangkok hanya terlihat beberapa helai kangkung yang tergolek lemas. Ha! Rupanya mereka sangat ingin mencicipi tumis kangkung yang kubuat, dan… Doyan! *tepok jidat*

Anak-anak rupanya sudah berdiri di belakangku dengan muka ketakutan karena kangkung yang (seharusnya) menjadi makan malamku sudah habis. Sambil memasang muka kesal, aku menyuruh mereka kembali ke ruang depan dan menghujani mereka dengan soal matematika yang banyak, sangat banyak. Mereka menundukkan muka melihatku kesal, lalu beranjak duduk untuk mengerjakan soal dalam diam.

Yang tidak mereka tau, aku berjingkat ke dapur, menghaluskan bumbu, lalu menyiapkan wajan berisi minyak untuk menggoreng nasi. Tak lupa kusiapkan beberapa butir telur untuk digoreng setelahnya. Boleh donk, sesekali kita menutup les dengan doa makan, dan bukan doa sebelum pulang? 😉

Dan benar saja, begitu mencium aroma bumbu yang mulai matang, anak-anak pun berlarian lagi ke dapur. Kali ini, mereka berdesak-desakan ingin berdiri paling depan supaya bisa mencium aromanya dengan lebih puas.

“Mau bantu ibu memasak? Sepertinya katong pu nasi kurang banyak.” tanyaku pada mereka yang langsung disambut dengan teriakan “MAU IBUUUUUU!”

Dan malam itu, keriuhan pindah ke dapur. Beberapa anak membersihkan dan mencuci beras, beberapa menyiapkan kayu bakar untuk menanak nasi. Ada juga yang membantu menghaluskan bumbu, atau memecahkan telur dan mengaduknya. Yang memasak? Tentu saja ibu guru!

Yang tak kalah seru adalah saat membagi-bagi makanannya. Khusus nasi goreng, aku berpesan supaya ambil secukupnya, dan pastikan teman di belakangnya mendapat bagian. Untuk telur, aku memotongnya supaya mereka mendapat bagian yang sama besar.

Kalau satu telur dadar dibagi menjadi 5 potong, lalu Ebet dapat 1 potong, berarti Ebet dapat berapa bagian?” tanyaku sambil menguji mereka.

SEPERLIMA BAGIAN, IBUUUUU!” teriak mereka dengan antusias.

“Pintar! Kalau, ibu kasih 3 bagian untuk Cemo, berarti..?”

“Cemo dapat tiga per lima bagian!” teriak Bobi dengan cepat.

Berarti Cemo su lapar sekali sampai makan 3 bagian, Ibu!” balas Piden yang disambut derai tawa teman-temannya.

“Enak?” tanyaku sambil tergelak melihat mereka makan dengan lahapnya.

“Henak hekaliiii!” jawab mereka dengan mulut penuh nasi.

Hmm.. aku jadi teringat film Born to Cook yang legendaris itu. Setelah menyantap sesendok pertama masakan yang disajikan, tiba-tiba mereka sudah terangkat sampai ke awan berhiaskan pelangi indah, dengan iringan kecapi dan seruling para malaikat. Di belakang terlihat naga-naga beterbangan menembus awan. Sambil berurai air mata bahagia, mereka berteriak “SUGOOOIIII!”

Yah, mungkin kurang lebih seperti itu. *brb sewa naga indosiar*

“Kenyang tidak?” tanyaku lagi.

“Kenyang, Ibu! Kenyang dan senang!” ucap mereka nyaris berbarengan.

Ah, ini hal yang paling kusukai tentang memasak. Tidak perlu makanan mahal dan mewah untuk memunculkan perasaan bahagia. Masakan sederhana, yang dimasak bersama orang yang kita sayangi, dinikmati sambil duduk bersama, berbagi tawa dan cerita, itu cukup.

Itu membahagiakan.

.

.

PS: Sekarang, setiap mereka menulis surat untukku, mereka selalu bilang “Ibu, beta rindu masakan Ibu yang katong memasak sama-sama itu.”

Nah, betul kan.. Memasak bukan sekedar rasa, tapi juga kenangan 🙂

Advertisements
  1. mau dong incip masakannya chiil biar saya percaya klo masakannya emang enak…gak ada bukti jadi g yakin nie hahahaha *modus*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: