chiil

Awal Diagnosa: (Bukan) TB Kelenjar

In Battle on January 4, 2015 at 12:45 pm

Sudah baca postingan ini?

Kalau sudah, berarti tau donk aku sedang dalam masa-masa menantikan kehamilan kesembuhan selama 9 bulan ini.

Yak, aku didiagnosis TB kelenjar, penyakit yang disebabkan oleh bakteri Tuberculosis (TBC) dan menyerang kelenjar getah bening (KGB), bukan paru-paru seperti TBC biasa.

Dokter meresepkan obat bernama Rymactazid 300/450 mg, yang diminum setiap hari selama 9 bulan.

*elus-elus liver dan ginjal*

Bulan pertama baik-baik saja. Aku kontrol setiap bulan sambil beli obat untuk bulan berikutnya. Bengkaknya pun mulai kempes, walaupun beberapa masih teraba.

(Masih) Internist keempat, Oktober 2014

Aku demam.

Pulang dari Priok badan langsung panas dingin ga karuan, sekujur tulang rasanya nyeri kayak habis digebukin mantannya pacar yang cemburu. Benjolan di leher kiri pun semakin besar dan keras. Ah mungkin kecapean, pikirku. Akhirnya aku pun mendiamkan demam itu. Lupa sih minum obat atau engga. Kebiasaan jelek nih. Hehehe..

*dijambak*

Lho tapi selama seminggu, demamnya kok ga habis-habis? Anehnya lagi, demam hanya terjadi di malam hari, selepas jam pulang kantor.

Oh mungkin aku rindu bekerja di Priok.

Aku pun sering menanyakan ke temanku yang juga terkena TB kelenjar untuk membandingkan kondisi dan pengobatannya. Yang membuatku curiga, kondisi kami berbeda. Jarang, atau bahkan tidak ada gejala lain yang menyertai selama proses pengobatan.

Karena jadwal kontrol dengan dokter sudah dekat, akhirnya aku minum obat saja sambil menunggu hari konsultasi tiba. Sempat baca-baca artikel dan terbersit ketakutan bahwa ini tifus. Haduh, males banget! Pertama dan (semoga) terakhir kalinya aku kena tifus adalah awal tahun 2013. Rasanya ga karuan banget, karena aku demam sampai hampir 40’ C.

“Infeksi sekunder,” kata dokter setelah memeriksa kondisi tubuhku dan mendengarkan penjelasanku.

Infeksi apa lagi itu?

“Entah, yang jelas sepertinya imunitasmu nge-drop lagi dan kamu kena infeksi,” ujarnya santai.

Dokter pun meresepkan antibiotik lagi untuk aku konsumsi selama 5 hari.

Aku sedikit berdebat dengan dokter, karena dia tidak menyebutkan apa jenis infeksinya. Aku pun merasa sudah makan dan istirahat teratur, kebetulan sedang tidak banyak lemburan juga. Kerjaan besok biarlah dipikirkan besok saja. Ketika aku meminta tes darah untuk memastikan ada tifus atau tidak pun dia sepertinya enggan. Aku agak sedikit gusar melihat optimisme dokter tersebut. Bagaimanapun juga, aku ingin tau ada apa dengan tubuhku. Infeksi sekunder, yang entah apa penyebabnya, jelas tidak menjawab kegelisahanku.

“Itu antibiotik kekinian,” kata adikku yang lulusan farmasi ketika aku tunjukkan obat-obatan yang dokter berikan,”minum saja sampai habis.”

Ah, baiklah.

Saat itu entah mengapa aku bisa merasakan bahwa gejala ini bukan yang terakhir. Maka, ketika sebulan kemudian, badanku drop lagi, aku tau sudah saatnya aku ganti dokter.

Internist kelima, November 2014

Awal November aku kembali demam dan nyeri tulang. Kali ini ditambah benjolan yang tiba-tiba muncul di leher sebelah kanan. Benjolan di kiri? Semakin besar. Ketiak kiriku pun rasanya agak keras, seperti ada yang bengkak di dalamnya. Perut rasanya sangat begah, tidak enak makan dan pencernaan pun tidak lancar. Ah, sungguh, ini pertama kalinya aku merasa badanku betul-betul sakit.

#lemah #mintadipeluk

Aku pun memutuskan untuk tidak masuk kantor dan mendatangi RS yang kali ini lokasinya dekat dengan kosku. Setelah bertemu dengan internist rekomendasi temanku, kesimpulannya tetap sama: kemungkinan besar TB kelenjar. Kemungkinan kecil kanker, atau HIV.

BUSET, HIV!

Dia khawatir apabila ada masalah dengan imunitasku. Belakangan setelah aku bertanya dan membaca-baca, memang jaman sekarang apabila kelenjar getah bening bermasalah, perlu dites HIV.

Yang aku senang dari dokter ini adalah dia sangat mengakomodasi keinginanku untuk melakukan tes ulang, mulai dari tes darah, tes anti HIV, foto thorax, sampai biopsy jika diperlukan. Bahkan dia mau melakukan USG “intip” untuk daerah abdomen atau perut, gratis. #penting

Sambil menunggu hasil tes, dokter meresepkan berbagai macam obat, termasuk obat untuk lambung dosis tinggi. Namun, beberapa hari berlalu, obat-obatan itu sama sekali tidak ada pengaruhnya. Hingga tiba saatnya aku mengambil hasil tes dan konsultasi kembali dengan dokter.

Yang paling menegangkan justru menunggu hasil tes HIV. Tanganku rasanya super gemetaran ketika aku mendatangi lab untuk mengambil hasil.

Lalu?

NEGATIF, SAUDARA-SAUDARA!!

*tiup terompet*

*sebar confetti*

Rasanya tulang-tulangku langsung berserakan saat itu juga saking lemas dan leganya aku membaca hasilnya. Namun, yang mengagetkan, hasil tes darahku yang lain malah semakin berantakan. Kurang lebih 7 dari 15 komponen darah nilainya di luar batas normal, terutama sel darah putih. Laju endap darah (LED) yang digunakan sebagai indikator infeksi pun naik drastis, dari normalnya 0 – 20, menjadi 86. Bandingkan dengan LED hasil tes bulan Juli 2014, nilainya “hanya” 36.

Dokter pun memutuskan untuk biopsy jarum halus (FNAB). Kali ini beliau berpesan untuk menghentikan konsumsi obat TB kelenjar dari dokter sebelumnya, dan menambah obat lambung dengan dosis yang semakin tinggi. Membayangkannya saja perutku perih.

Ditemani sahabatku Gitta, hari Jumat malam, 14 November 2014, aku mendatangi RS untuk biopsy. Dokter patologi anatomi (PA) yang akan melaksanakan biopsy kali ini jauh lebih menyenangkan dari dokter PA pertamaku. Dia sempat menanyakan sakit perutku, dan menyarankan aku untuk meminta dokter mengganti obat TB kelenjarku agar tidak terlalu keras. Rupanya dia berpendapat bahwa sakit perut itu adalah efek samping obat TB kelenjar.

Biopsy jarum halus kali ini agak berbeda, karena rasa sakitnya jauh lebih terasa dibanding biopsy pertama. Penyebabnya karena benjolanku semakin keras dan banyak. Alhasil malam itu rasanya kepalaku seperti dipasung, tidak bisa menengok ke kiri dan kanan dengan leluasa. Gak bisa ngecengin mas-mas ganteng yang duduk di sebelahku juga.

“Selasa sudah keluar hasilnya,” kata dokter tersebut. Dokter juga akan melakukan kultur jaringan untuk melihat perkembangan bakteri TB yang ada di getah beningku. Untuk yang satu ini, prosesnya cukup lama, kurang lebih 1 bulan.

Aku pun pulang dan beristirahat.

———————————————————–

“Limfoma Malignum Hodgkin”

“Hah?”

Aku terperanjat mendengar suara di ujung telfon membacakan hasil biopsy yang baru semalam sebelumnya aku lakukan. Dering telfon di Sabtu pagi itu saja sudah mengagetkanku,  apalagi mendengar hasilnya yang sungguh di luar dugaan.

“Itu kan kanker..” ujarku sedikit berbisik.

Pikiranku penuh dengan pertanyaan tentang hasil diagnosa yang tiba-tiba berubah. Aku pun meminta sahabatku Gigih untuk menemaniku ke RS. Setelah menerima hasilnya, di amplop memang ada cap bertuliskan URGENT, yang menandakan bahwa aku harus segera mengetahui hasilnya.

Aku langsung berlari ke klinik penyakit dalam untuk bertemu internist-ku, namun sayangnya beliau tidak praktek. Akhirnya tanpa pikir panjang aku langsung ke klinik oncology (kanker) dan menanyakan jadwal praktek dokter. Bersyukur sekali ketika akhirnya aku bisa bertemu dengan dokter bedah oncology yang sangat baik. Beliau sangat ramah dan menjelaskan semuanya dengan tenang.

Dari beliau juga aku tau bahwa semestinya dokter tidak melakukan penanganan hanya dari hasil biopsy jarum halus saja, melainkan harus melakukan biopsy eksisi (pembedahan untuk mengambil sampel yang lebih banyak) untuk menegakkan diagnosa. Karena sampel yang diambil dari jarum halus itu sangat sedikit, meskipun ada sel kanker, bisa saja tidak terambil. Dan bisa jadi, bulan Juli 2014 sudah ada sel kanker di tubuhku, namun tidak terdeteksi. Waduh!

Dari hasil diskusi, akhirnya aku memutuskan untuk melaksanakan biopsy eksisi keesokan harinya. Itu berarti, malam ini aku harus bersiap-siap masuk ke unit rawat inap untuk persiapan operasi.

Tak lupa membawa seperangkat skin care. Sakit boleh, jelek jangan (banget-banget).

*dijejelin obat jerawat*

Ssst.. Hasil biopsy dan operasi ini tidak langsung aku beritahukan ke orang tuaku. Daripada menambah pikiran, lebih baik aku menunggu sampai diagnosanya benar-benar tegak.

Dan kamu, Limfoma Malignum Hodgkin, kita bertarung mulai detik ini.

Advertisements
  1. Ka.. kanker. Serem. 😐

  2. Matil sayaaangg.. cepet sembuh yaaa…
    Hari gini emg musti ada opsi kedua ketiga dst.. cemungudddhh!! ^^

  3. Mamaaaat, cemungudh! 🙂

  4. matiil semangat ya!!!:*

  5. dear matil tersayang,
    aku baru tau kabar ttg kamu baru2 ini..
    aku ga bs berkata banyak..yg jelas tetep semangat seperti aku menjalani hidupku ini 😊😊😊

    aku mungkin tdk sedekat seperti yg lain..tp yg aku ingat kalo qta pernah gila bareng dikampus. Bukan cuma gila krn pelajaran yg nggilani alias mumet..tp gila krn main dan doyan makan😁
    #mintaditendang

    pokoknya kamu harus tetep semangat dan sembuh ya..matil gt lho..

    TA aja kelar..pasti yg sekarang juga akan segera bablas penyakite

    *kiss

  6. Semangat yaa 🙂

  7. Mb boleh tau berobat di rumah sakit apa, saat ini Saya jg ada benjolan dileher tp blm dpt RS yang tepat jd capek nd bingung…Kl boleh infony mb berobat di RS mana..Makasih y mb

  8. Mb boleh tau berobat di rumah sakit apa, saat ini Saya jg ada benjolan dileher tp blm dpt RS yang tepat jd capek nd bingung…Minta infony y mb makasih

  9. mbk minta email donk, mau tanya” nih
    *urgent

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: