chiil

Awal Diagnosa: TB Kelenjar

In Battle on January 4, 2015 at 4:04 am

“Kita mulai pengobatan mulai sekarang ya” kata dokter itu sambil menuliskan resep, “sampai 9 bulan ke depan.”

“Hah? Sembilan bulan, dok?” tanyaku sambil mengernyit. Lama sekali, pikirku.

“Iya,” katanya dengan tegas, “Sembilan bulan.”

———————————————————————————-

Satu bulan sebelumnya, Juni 2014, aku merasa leher kiriku membengkak. Dari hasil perabaan, ada beberapa benjolan di dalamnya yang teksturnya  menyerupai karet.

“Ah, itu infeksi biasa” kata seorang teman mengenai benjolan itu, “tiap kali demam atau sariawan, muncul benjolan sebesar kelereng. Itu namanya kelenjar getah bening (KGB).”

Aku pun kembali meraba bengkak di leher. Sedikit hangat.

“Kalau infeksinya sembuh, KGB-nya kempes sendiri” ujarnya sambil tersenyum menenangkan.

Namun aku tidak bisa tenang.

 

Internist pertama, Juni 2014

Sepulang dari kantor klien di Priok, aku mampir ke rumah sakit yang kebetulan searah dengan jalan pulang ke kos. Di sana aku bertemu dengan dokter spesialis penyakit dalam (internist) yang kemudian memintaku melakukan USG leher untuk memastikan apakah yang bengkak KGB atau tiroid.

Di sini aku mulai curiga, apa iya memastikan itu KGB atau tiroid saja harus pakai USG? Toh letaknya jelas-jelas di samping leher, bukan di tengah. Aku sempat gamang dan memutuskan menghubungi sahabatku yang juga seorang dokter. Ia pun menyarankan aku mengikuti kata internist tersebut. Lagipula apabila dilakukan USG, kita dapat mengetahui kondisi benjolan di dalam leher. Baiklah, aku pun akhirnya memutuskan untuk melakukan USG yang kalau tidak salah biayanya Rp 250.000,00. Karena hasilnya langsung bisa diambil dalam waktu kurang dari 30 menit, aku pun buru-buru kembali ke internist untuk menganalisa hasilnya.

“Iya, ini sudah pasti KGB” katanya sambil menunjukkan bulatan-bulatan di dalam leher kiriku yang terlihat jelas di hasil USG. Dari hasil pembacaan, ukuran bulatannya bervariasi dari 0.6 cm sampai yang terbesar 1.5 cm.

“Normal, dok?” tanyaku dengan skeptis.

“Normalnya sih KGB tidak teraba kulit, alias kecil sekali. Kalaupun bengkak, besarnya seharusnya tidak lebih dari 1 cm. Tapi ini,” ujarnya sambil menunjuk bulatan paling besar, “sudah mencapai 1.5 cm.”

Aku terdiam, berusaha mencerna penjelasannya.

“Kamu demam? Batuk?”

Aku menggeleng.

“Keringat dingin di malam hari?”

Kembali kugelengkan kepala.

“Penurunan berat badan yang cukup drastis?”

Aku mengangguk perlahan.

“Dua hari ini turun 2 kg, dok. Tapi itu karena aku diet.”

Ia pun terkekeh.

“Kalau itu infeksi biasa, setelah minum antibiotik biasanya sembuh” kata dokter sambil menuliskan resep antibiotik untuk 5 hari.

“Kalau bengkak lagi bagaimana, dok?” tanyaku memastikan rencana selanjutnya.

“Kita biopsy ya. Ambil sampel benjolannya, lalu dicek apakah itu infeksi biasa atau bakteri Tuberculosis (TBC).

Wah wah, apa pula ini biopsy? Kenapa ada TBC segala?

Malam itu, di sepanjang perjalanan kembali ke kos, aku tak henti-hentinya googling tentang pembengkakan kelenjar getah bening. Membaca jurnal internasional, jurnal nasional, sampai tulisan-tulisan di blog. Kesimpulannya: pembengkakan kelenjar getah bening bisa terjadi karena infeksi akut seperti sariawan atau ISPA, sampai kronis seperti TBC, TB kelenjar (TBC yang menyerang KGB, bukan paru) dan kanker!

Lima hari berlalu dan obat antibiotikku habis. Bengkak di KGB sudah kempes dan hidup berjalan seperti biasa.

Sampai sebulan kemudian bengkak muncul lagi di tempat yang sama.

 

Internist kedua, Juli 2014

Ada beberapa hal yang menyebabkan aku kurang sreg dengan internist pertamaku, sehingga kuputuskan untuk ke internist kedua di RS yang sama. Tanpa basa basi, dia menjelaskan berbagai kemungkinan infeksi d KGB, sampai dengan kanker. Persis seperti yang aku baca. Dia menyarankanku untuk melakukan foto thorax (untuk melihat kondisi paru-paruku), tes darah lengkap (full blood count) dan biopsy jarum halus (FNAB) malam itu juga.

“Sudah bengkak berapa lama?” tanya dokter Patologi Anatomi (PA) ketika akan melakukan prosedur biopsy.

“Pertama teraba sih sebulan yang lalu dok, tapi setelah diberi antibiotik, seminggu ini bengkak lagi” ujarku.

“Yaelah baru sebulan kok udah biopsy sih?” katanya.

Akupun mengkerut, entah kenapa merasa terintimidasi karena kata-kata dokter itu seakan-akan menegaskan bahwa aku lebay. Bengkak segini doank, baru sebulan doank, kok udah biopsy segala? Mungkin begitu pikirannya. Tapi aku sudah bertekad untuk lanjut, karena aku sangat ingin mengetahui penyebabnya.

Kira-kira 5 hari kemudian aku mendapatkan hasilnya.

Foto thorax, normal. Paru-paruku bersih karena tidak merokok, dan tidak ditemukan adanya benjolan atau keanehan lainnya.

Hasil tes darah, dari kurang lebih 15 komponen yang dites, 2 di antaranya di luar batas normal. Salah satunya laju endap darah (LED), yang bisa menjadi acuan kadar infeksi di tubuh seseorang. Dari batas normal 0 – 20, nilaiku 36. Hmm cukup tinggi juga ya, pikirku.

Yang paling aku tunggu-tunggu, hasil biopsy. Di situ disebutkan bahwa bengkak ini adalah lymphadenopathy cronic. Dia menyebutkan adanya kemungkinan infeksi TB, dan tidak ada sel tumor ditemukan.

Sarannya adalah melakukan biopsy eksisi (pembedahan untuk mengambil sampel yang lebih banyak) dan immunohistokimia (IHK).

Melihat hasil tes-tes tersebut, internist kedua ini langsung mengambil kesimpulan penyakitku adalah TB kelenjar, dengan waktu pengobatan 9 bulan. Tiga bulan lebih lama dari pengobatan TBC paru. Aku cukup terpukul dengan vonis itu. Selama ini aku berusaha hidup sehat, tidak merokok/minum alkohol, dan cukup rajin berolahraga serta membuang sampah pada tempatnya.

(Hey, aku membawa kantorku memenangkan pertandingan basket dan futsal di Olimpiade Akuntan 2014!)

“Bakteri TB itu endemik di Indonesia” kata dokter saat melihatku terpaku, “kamu bisa saja terkena karena imunitasmu sedang rendah saat itu.”

Yah bisa jadi. Pekerjaanku sebagai konsultan menuntutku untuk banyak melakukan perjalanan ke kantor klien, yang seringnya jauh dari lokasi kantor dan kosku. Sering lembur juga sih dulu.

Dokter menyarankan aku melakukan tes selanjutnya untuk konfirmasi TB: tes Mantoux. Dibacanya tes “mantu”. Iya, mantu, kayak yang orang tua kamu pengenin sekarang.

*plak*

Prosedurnya, protein bakteri TB disuntikkan ke kulit di lengan bawah. Dia akan menggembung sedikit. Apabila positif TB, dalam 2×24 jam dia akan membesar sampai lebih dari 1 cm. Kadang disertai ruam kemerahan di bagian yang menggembung.

Dua hari berlalu dan ukuran gembunganku tidak berubah.

Oke, kata-katanya aneh. Tapi tau kan maksudku? Bukan lenganku yang menggembung (*tampar nih*), tapi bekas suntikan Mantoux itu. Malah cenderung lebih kecil dari sebelumnya. Yang ada hanya ruam merah seukuran 0.9 cm.

Hmm..

Mulai aneh.

Ketika aku kembali ke dokter itu, dia langsung mengukur hasil tes Mantoux. Dan seperti yang kuduga, karena ukurannya kurang dari 1 cm, maka aku dinyatakan negatif TB kelenjar.

LAH. Berubah lagi?

“Iya, kalau begini sih sudah jelas-jelas bukan TB kelenjar” katanya.

Lalu apa donk?

“Infeksi biasa” kata dokter sambil meresepkan antibiotik untuk 5 hari.

“Dan jangan menekan-nekan bengkak di leher lagi” ujarnya sambil menabok tanganku. Beneran loh ditabok tanganku waktu dia melihatku menekan KGB di leher. Hahaha..

*tabok balik*

*lalu dikutuk jadi selang infus*

Sejujurnya aku mulai lelah, karena sudah tes macam-macam, mengeluarkan banyak waktu dan biaya untuk transportasi ke/dari RS, kok hasilnya masih belum jelas juga. Akhirnya setelah banyak bertanya ke teman-teman yang berkecimpung di dunia kedokteran, aku pun bertekad mencari 3rd opinion ke salah satu RS rujukan di Jakarta.

Internist ketiga, Juli 2014

Tak perlu menunggu lama, keesokan harinya aku langsung mendaftar di RS tersebut. Datang jam 07.45 dan dapat nomor antrian 93. Bagus! Mungkin minggu depan baru aku ketemu dokternya. Empat jam kemudian (iya, empat jam), aku pun dipanggil ke klinik. Sempat negosiasi karena aku ingin ke dokter KHOM (Konsultan Hematologi Onkologi Medis) sesuai saran temanku, tapi dia menolak karena harus ada surat rujukan. Duh, repot juga ya. Akhirnya kembali ke rencana awal: bertemu dokter penyakit dalam.

Jam makan siang sudah berlalu ketika akhirnya giliranku dipanggil juga. Yang tidak aku duga, aku hanya bertemu residen (calon spesialis), bukan dokter spesialisnya. Meskipun begitu, mereka tetap di bawah arahan dokter spesialis. Residen ini memeriksaku secara fisik dan wawancara. Ketika aku tunjukkan foto-foto tes Mantoux dan obat-obatan yang diberikan oleh dokter sebelumnya, dia spontan histeris.

Iya, histeris. Dia bilang aku sebenarnya positif TB kelenjar! Argumennya adalah tes Mantoux-ku meskipun tidak bengkak, namun warnanya kemerahan. Jaman sekarang ini jadi salah satu acuan juga untuk tes Mantoux. Padahal yang aku baca, satu-satunya indikator tes Mantoux adalah bengkak melebihi 1 cm. Yang lebih mengagetkan lagi, ia menyuruhku menghentikan semua jenis obat yang diberikan oleh dokter sebelumnya.

“Bukan obat yang cocok” katanya singkat sambil merujukku ke dokter spesialis paru.

Yak, bagus. Sekarang ada 2 dokter yang menyatakan hal yang berbeda 180’.

Sejujurnya aku cukup meradang karena menunggu lama sekali dengan pelayanan yang jauh dari optimal. Apalagi setelahnya aku ditolak oleh bagian administrasi di klinik paru karena tidak membawa hasil foto thorax, hanya bacaannya saja. Berat, bro!

Dengan kondisi begini, mau tidak mau aku harus mencari opini lain. Berbekal rekomendasi dokter dan hasil googling (kapan-kapan aku akan cerita perlunya mencari tau track record dokter tersebut), aku pun berpindah ke RS lain yang jaraknya cukup jauh.

Internist keempat, Juli 2014

Dokter ini sungguh berbeda. Begitu kesan yang aku dapat ketika bertemu dengannya. Dia adalah dokter senior yang sangat disegani dan caranya berkomunikasi pun sangat menyenangkan. Aku menemukan beberapa feedback positif mengenainya dari orang-orang asing yang pernah ia tangani. Aku menceritakan kronologisnya, lengkap dengan obat-obatan yang diresepkan, hasil tes dan juga kesimpulan para dokter sebelumnya.

Aku banyak menanyakan hal-hal yang kemudian dijawabnya dengan sangat logis. Bahkan untuk pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh dokter sebelumnya. Kesimpulannya: aku positif TB kelenjar.

Tapi aku senang karena merasa percaya dengan dokter ini. Maka, sejak akhir Juli 2014, dimulailah perjalanan pengobatan TB kelenjarku.

Sampai sembilan bulan ke depan.

Advertisements
  1. Selama ini cuma ngikuti sepotong2 ceritamu di Twitter, sering kelewatan, dan sungkan mau tanya2 japri, baru baca kronik gini baru beneran paham. Duh.. 😦

  2. duh 😦
    cepet sembuh ya mat

  3. Mamat, lekas sembuh 😦
    Aku baru aja menyelesaikan pengobatan 9 bulan di desember kemarin.. Harusnya aku check up lagi, tapi belom ke dokter lagi hehe. Hasil test darah bulan kemarin udah normal, yay!

    Dan setelah TB kelenjar, aku mau baca tulisanmu lagi soal nama ilmiah yang-susah-diingat di twitter itu..

  4. Sayangnya, sekitar satu bulan setelah setelah komen aku diatas, kembali muncul tanda-tanda benjolan lagi 😐 yak, mulai ke internist lagi.. *curcol*

  5. Saya juga sudah biopsi, lymphadenitis kronis, trus dirujuk ke dokter paru,
    Ga Ada tes tes lagi Dari hasil biopsi itu dokternya langsung blg saya tb, jd bingung, krn udh searching jg sebelumnya, lymphadenitis bisa disebabkan kuman lain tdk hanya tb, trus sy Tanya dokternya, “loh sy tb tahu Dari mana dok, ga Ada tes lebih lanjut lagi?” , dokternya jawab : ga Ada.
    Kalau boleh tahu dokter kamu yang trakhir big apa? Apakah Ada tes lagi?
    Benjolan dileher saya rada ngilu, kamu ngilu juga nggak?

  6. sore, Boleh tau ga dokternya dokter apa? karna ada gejala yang sama nih.. Dan gamau bolak balik cobain dokter karna keterbatasan.. makasih ya.. kalo bole bantu WA dong ke 08111873337 biar bisa ngbrol.. makasih ya

  7. Betapa mudah kita jadi percobaan test ini itu oleh dokter ya. Walhasil pasien harus bayar mahal test2 yg ternyata hasilnya gak semua dipakai. Boleh donk nama dokter ke_4 itu di share. Thank you

  8. Bagi info dokter yang terakhir donk, kondisi penyakit saya alami sama nih seperti yg anda ceritakan kalau bisa di kirim ke email saya merrinachandra@gmail.com untuk info thanks

  9. Halo,
    Saya baru divonis kena TB kelenjar sama dokter spesialis paru di jakarta barat 2 minggu lalu. Baru seminggu saya mnm obat anti TB plus obat untuk maag dan livernya. Yg bikin saya ragu adalah mengapa dokter tsb langsung menyimpulkan saya kena TB kelenjar hanya dg mengandalkan tes ronsen yang hasilnya adalah paru2 saya sehat.

    Saya tdk diminta untuk tes mantu itu, tdk jg tes darah, tdk jg biopsi. Waktu sy tny “Ini sudah pasti ya Dok TB kelenjar?” Dijwb “Ya, karena sudah diberi antibiotik non TB selama 5 hari oleh dr umum tp tubuh tdk merespon (benjolan di leher kiri msh ada).”

    Cuma saya koq msh ragu dan ingin mencari second opinion tapi bingung harus ke dokter spesialis paru atau internist atau ke RS mana yang bagus (plafon medical saya dari kantor sudah habis limit jadi harus pake biaya sendiri hiks). Mohon bantuannya untuk rujukan internist ke 4 yang dipercayai itu. Terima kasih banyak ya.

  10. aku sama kayak kamu😢 udah di biopsi dan sebagainya hasilnya cuma katanya 2 dokter “pembengkakan KGB biasa”. Dikasih antibiotik selama 5hari. tapi gak ngaruh. Tapi dari karakter ciri-cirinya sih udah sama kayak tb kelenjar. ini mau ke dokter ketiga😢 disuruh fnab lagi sama dokternya. Semoga segera ada hasilnya. Kalau emang positive segera dapet pengobatan aja gitu😢 lah ini gimana nyembuhin, dokternya aja gak bisa pastikan. Ada saran? atau aku langsung minta tes mantoux? selama ini ke dokter tht sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: